Halaman

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

Inglourious Basterds

Inglourious Basterds merupakan sebuah film perang yang dirilis tahun 2009. Film ini disutradarai oleh Quentin Tarantino dan dibintangi oleh Brad Pitt, Christoph Waltz, Eli Roth dan Melanie Laurent. Christoph Waltz sendiri baru-baru ini memperoleh penghargaan sebagai The Best Actor in a Supporting Role pada Academy Awards 2010. Film ini menceritakan dua perencanaan pembunuhan pimpinan politik Nazi-Jerman. Perencanaan pembunuhan dilakukan oleh seorang wanita muda Yahudi-Perancis yang juga memiliki sebuah gedung bioskop di Paris, Shosanna Dreyfuss (Melanie Laurent). Pembunuhan juga direncanakan oleh sekelompok pasukan Yahudi-Amerika yang dipimpin oleh Letnan Aldo Raine (Brad Pitt).
Awal mula film ialah ketika Kolonel SS, Hans Landa (Christoph Waltz) tiba di sebuah rumah peternakan sapi di Perancis pada tahun 1941. Hans Landa yang sudah dikenal sebagai "Pemburu Yahudi" mendatangi rumah Perrier LaPedit yang dikabarkan menyembunyikan keluarga Yahudi, Dreyfuss. Rumor tersebut ternyata dapat diungkap oleh Hans Landa, meskipun LaPedite menyembunyikan mereka di bawah lantai kayu rumahnya. Tanpa belas kasihan, setelah mengetahui persembunyian keluarga Dreyfuss, Hans Landa memerintahkan anak buahnya untuk memberondong keluarga tersebut hingga tewas, kecuali Shosanna yang dapat melarikan diri.
Tiga tahun kemudian, Letnan Aldo Raine membuat sebuah tim yang beranggotakan tentara Yahudi-Amerika dan seorang bekas tentara Yahudi-Jerman. Tim tersebut bertujuan untuk memberikan ketakutan kepada tentara Nazi-Jerman dengan membunuh secara keji setiap tentara Nazi yang mereka temui dengan menguliti kepalanya. Oh maaf, tidak semuanya dibunuh melainkan ada satu diantara rombongan tentara Nazi yang mereka temui, dibiarkan lolos dengan maksud dia akan memberikan kabar mengerikan yang ia rasakan setelah bertemu dengan "The Basterds". Akan tetapi, sebelum dibiarkan lepas tentara nazi tersebut diberi tanda 'swastika', simbol kebanggaan Nazi, di jidat mereka menggunakan pisau.
Mengerikan dan sadis! Kata yang sangat tepat untuk memberikan kesan awal pada film ini. Pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di film ini diperlihatkan secara sangat nyata. Seperti terlihat pada saat the anggota Basterds menguliti kepala tentara Nazi, bunyi kulit terkelupas terdengar sangat miris, tempurung kepala juga terlihat mengerikan dengan darah yang masih sangat segar di sana. Juga, saat sersan Donny Donowitz memukul kepala seorang tentara Nazi menggunakan tongkat baseball hingga pecah. Suara tengkorak yang remuk sangat jelas terdengar.
Itulah sekilas mengenai film Inglourious Basterds. Bagi teman-teman yang sudah histeris saat melihat film Saw, tidak direkomendasikan untuk melihat film ini. Sebaliknya, bagi yang masih merasa "kurang puas" saat melihat Saw, film ini sangat saya rekomendasikan. Harap diingat, ini bukan film horor, jadi jangan bandingkan ceritanya, tapi bandingkan adegannya. Silakan download sendiri film Inglourious Basterds, tapi bukan di sini lho ya...:-)

Rabu, 03 Maret 2010

Kejanggalan Film Merantau

Emm... baru kemarin saya nonton film Merantau, film yang bercerita tentang tradisi merantau yang sering dilakukan oleh orang Indonesia. Namun, pada film Merantau ini difokuskan pada seseorang, dari suku Minang, bernama Yuda yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan, Jakarta.
Yuda, seorang muslim yang juga jago silat, bermaksud mengikuti jejak leluhurnya untuk merantau. Merantau memang sudah menjadi tradisi seorang lelaki Minangkabau ketika beranjak dewasa. Merantau dimaksudkan untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan yang lebih baik daripada di tempat asalnya. Lebih lanjut mengenai adat merantau, klik di sini.
Film Merantau bisa dikatakan sebagai oase di antara film-film Indonesia yang terlalu banyak mengangkat tema horor erotik. Dengan menggunakan judul tersebut, agaknya film ini bertemakan kebudayaan, merantau. Akan tetapi, adegan bela diri yang sangat ditonjolkan dalam film ini juga mengangkat kebudayaan lainnya, pencak silat.

Senang rasanya ketika di tengah film-film Indonesia yang didominasi film horor erotik terselip sebuah film bergenre bela diri/action. Sudah lama pula film seperti ini tidak diproduksi di Indonesia. Kini, cukup terobati lah kerinduan para penggemar film laga di Indonesia dengan kehadiran film ini. Selain sajian laga yang diperlihatkan film ini yang sangat bagus, kita patut berbangga sebagai orang Indonesia mempunyai film seperti ini karena film ini juga berkesempatan diputar di Festival Film Cannes.
Tak ada gading yang tak retak. Dengan segala pujian atas kehadiran film ini, menurut saya film ini memiliki beberapa kekurangan.
Pertama, sewaktu Yuda akan berpamitan dengan gurunya (kayanya ya?). Sesaat setelah unjuk kebolehan pencak silat, kelelahan gurunya terlihat terlalu dibuat-buat, kurang ekspresi. Bahkan tidak berkeringat. Padahal, untuk melakukan aksi tersebut, menurut saya sangatlah melelahkan dan cukup membuat keringat keluar dari tubuh.
Kedua, saat di dalam bus perantauan, berbincang dengan Eric. Bus yang sedang berjalan, pastilah terjadi guncangan, sebaik apapun suspensi busnya. Nah, di sini sama sekali tidak ada guncangan. Bergoyang-goyang pun tidak. Seperti sedang menaiki bus yang sedang berhenti.
Ketiga, waktu menelepon setelah Yuda sampai di Jakarta. Emmhh... di Jakarta masih ada telepon umum koin kah?? Saya sudah tidak pernah menjumpai telepon umum koin deh... emang sih, saya tidak di Jakarta, tapi... Heran...
Keempat, Yuda sepertinya benar-benar nelangsa ya? Hanya berbekal tas kecil entah apa saja isinya. Sepertinya tidak membawa baju ganti? Selain itu, kenapa Yuda tidak mencari masjid atau mushola saja untuk beristirahat? Kenapa harus di tempat seperti itu? Lagipula Yuda itu muslim dan orang Indonesia, lebih terlihat "Indonesia" kalau mencari mushola/masjid untuk beribadah dan beristirahat.
Kelima, lagi-lagi di telepon umum koin. di situ Yuda menelepon ibunya (ada di Minang) dari Jakarta melalui telepon koin! Hebat sekali! Mbok teleponnya di wartel saja...lebih realistis.
Keenam, saat perkelahian di jembatan penyeberangan. Musuh yang telah tak berdaya yang ada di kanan-belakang Yuda melempar pipa besi yang ada di depan Yuda. Kejanggalan terlihat setelah itu. Setelah melempar dan sudah diterima oleh temannya, temannya menyerang Yuda. Di situ, musuh yang tadinya tergeletak di kanan-belakang Yuda tiba-tiba sudah tidak ada, namun kemudian terlihat lagi.
Ketujuh, saat Adit dan Astri dikejar musuh. Adit disuruh sembunyi,, yah...dramatisirnya keterlaluan..terlalu lama, keburu ketangkep tuh...
Kedelapan, saat di atas apartemen (atau rusun ya??). Yuda melompati gedung, musuhnya yang mengejar juga ikut lompat mengejar Yuda. Kejanggalan terjadi saat Yuda mengambil batang bambu jemuran. Mudah bener. Emang bambunya tidak dipaku atau diikat ya?
Paling janggal, tentu saja saat Eric diberondong timah panas sewaktu di lift. Sudah ditembak bertubi-tubi namun masih belum mati juga, bahkan masih bisa sedikit melawan musuh. Hebat...! Biar lebih dramatis mungkin ya?
Saya sebenarnya bukan pengamat film, hanya senang nonton saja. Jadi, maaf kalau postingan ini tidak berkenan di hati para pembaca. Komentar teman saya tentang ini sih, "Namanya juga film, Ki...". Ya sudah lah...
Yang jelas, aksinya KEREN BANGET!!