Halaman

Tampilkan postingan dengan label Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2011

Pembukaan ASEAN ParaGames 2011

Indonesia akan menjadi tuan rumah ASEAN ParaGames (APG) 2011. ASEAN ParaGames 2011 ini digelar mulai tanggal 12-22 Desember 2011 di kota Surakarta (Solo). Berbagai persiapan, mulai pembenahan venue hingga sosialisasi telah dilaksanakan oleh INASPOC (Indonesian Paragames Organizing Committee), selaku panitia ASEAN ParaGames 2011. Bahkan, INASPOC telah mengkoordinasi ribuan warga kota Surakarta untuk menghadiri acara pembukaan ASEAN ParaGames 2011 mendatang.

Seremoni pembukaan ASEAN ParaGames 2011 sendiri baru akan dilaksanakan tanggal 15 Desember 2011 di stadion Manahan. Joko Widodo, selaku walikota Surakarta telah menyampaikan bahwa beliau sangat mendukung ASEAN ParaGames 2011. Beliau telah berkoordinasi dengan panitia penyelenggara dalam pengerahan massa untuk memeriahkan pembukaan ASEAN ParaGames 2011. Setidakanya, akan ada 5100 orang menyaksikan langsung pembukaan ASEAN ParaGames 2011 dari 51 kelurahan yang ada di kota Surakarta. Beliau juga menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir soal harga tiket pembukaan ASEAN ParaGames karena ada undangan dan tiket gratis untuk menyaksikan acara pembukaannya.

Senin, 05 Desember 2011

Sosialisasi ASEAN ParaGames 2011

ASEAN ParaGames merupakan pesta olahraga multicabang yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali, setelah ASEAN Games diselenggarakan dan diperuntukkan untuk atlet-atlet penyandang cacat. Peserta dari ASEAN ParaGames ini ialah negara-negara yang berada di kawaan Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Timor Leste, Thailand dan Vietnam. ASEAN ParaGames kali ini merupakan ASEAN ParaGames yang ke-6 dan diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di kota Surakarta atau sering juga disebut kota Solo.

ASEAN ParaGames 2011 baru mulai dipertandingkan pada 12-22 Desember 2011 nanti, dan hari Minggu (4/12) kemarin telah diadakan sosialisasi di kota Solo. Sosialisasi ASEAN ParaGames 2011 dilakukan di Car Free Day Solo, mulai pukul 05.30 sampai 09.00 WIB. Sosialisasi ASEAN ParaGames 2011 ini dilakukan dengan berbagai macam kegiatan, diantaranya ialah acara jalan sehat massal di Solo Car Free Day jalan Slamet Riyadi yang dimulai dari kawasan stadion R. Maladi (Sriwedari) hingga kawasan Gladhag. Saat mulai jalan massal yang dimulai dari kawasan stadion R. Maladi (Sriwedari), di kawasan Gladhag juga telah dimulai acara dengan senam aerobik dan permainan-permainan tradisional seperti Bakiak, Egrang dan Gasing.

Selasa, 23 Agustus 2011

Persis Solo dan Solo FC Resmi Merger

Membaca berita di surat kabar Suara Merdeka hari ini, saya sangat tertarik oleh adanya kabar bahwa Persis Solo dan Solo FC akhirnya merger. Seperti sudah diketahui sebelumnya, tim-tim sepak bola yang mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia diwajibkan melebur dengan klub sepak bola yang telah diakui oleh PSSI supaya dapat mengikuti kompetisi sepak bola di Indonesia di musim yang akan datang. Hal ini juga dilakukan oleh Solo FC yang akhirnya merger dengan 'saudara tua'nya, Persis Solo.

Setelah menjalani serangkaian perundingan, akhirnya telah disepakati bahwa Solo FC dan Persis Solo melebur menjadi satu pada Minggu (21 Agustus 2011) malam. Dengan mergernya kedua klub tersbut, diharapkan masyarakat kota Surakarta (Solo) dan sekitarnya terutama Pasoepati, supporter sepak bola dari wilayah tersebut, dapat memiliki klub yang membanggakan wilayahnya di ajang kompetisi sepak bola tertinggi di Indonesia.

Kamis, 09 Desember 2010

Relokasi PKL berbuah Trotoar

Relokasi PKL (bukan merupakan akronim Pedagang Kaki Lima, tetapi Pedagang Kreatif Lapangan) di belakang kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menjadikan kawasan ini lebih tertib. Dulu, awal-awal masa kuliah pada akhir Agustus 2004, PKL-PKL banyak yang menjajakan dagangannya tepat menempel di tembok belakang UNS. Jangan dikira PKL ini menggunakan gerobak dorong, namun mereka membuat bangunan permanen yang digunakan sebagai kios-kios tempat mereka menawarkan dagangannya.
PKL yang beroperasi di sini sangat beragam. Mulai dari penyedia layanan foto kopi, rental komputer, counter telepon seluler dan pulsa, warung makan, rental disk software bajakan, bengkel dan tambal ban motor, tempat cuci motor, penyedia asesoris motor hingga kios pakaian model-model terkini dan juga kios pakaian muslimah. Belum lagi penjaja makanan bukan nasi seperti penjual mie ayam dan bakso, pempek, batagor, tahu kupat, es kelapa muda dan yang lainnya. Kini, hampir semuanya telah direlokasi. Ya, hampir semuanya karena relokasi baru dilakukan pada kios-kios yang berada di sebelah barat gerbang belakang utama kampus Kentingan UNS, sedangkan kios-kios yang berada di sebelah timur gerbang belakang belum direlokasi.
Keberadaan mereka sebenarnya sangat membantu mahasiswa dalam beraktivitas, namun jika dilihat dan dirasakan secara menyeluruh keberadaan mereka cukup mengganggu pengguna kendaraan bermotor dan pejalan kaki sekaligus. Mereka menempati trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, sehingga pejalan kaki menggunakan jalan beraspal yang seharusnya digunakan kendaraan bermotor. Dengan demikian, mereka telah mengurangi hak pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang terkadang menyebabkan kecelakaan.
Pemecahan masalah telah dilkakukan oleh pemerintah kota Surakarta. PKL-PKL tersebut telah direlokasi ke sebidang tanah kosong yang telah 'disulap' menjadi sebuah pasar di belakang kantor kecamatan Jebres, Pasar Panggungrejo namanya.
Seperti pada relokasi-relokasi PKL sebelumnya di kota Surakarta, sama sekali tidak terjadi kekerasan dalam pelaksanaan relokasi kali ini. Meskipun tidak ada kekerasan, nampaknya cukup banyak pedagang yang merasa enggan untuk ikut pindah ke Pasar Panggungrejo. Beberapa dari mereka menganggap akses dan keterjangkauan pelanggan tidak sebaik ketika mereka berjualan tepat berada di pinggir jalan raya yang akan menyebabkan penurunan omzet penjualan. Pedagang yang enggan tersebut ada yang memilih untuk membuat kios sendiri di tempat lain daripada menempati kios pasar yang sebenarnya diberikan secara cuma-cuma, ada juga yang terpaksa 'pasrah' menempati kios di pasar tersebut.
Permasalahan tentang PKL yang sekali lagi terpecahkan dengan baik oleh pemerintah kota Surakarta, meskipun tidak mudah. Sekarang, kita dapat melihat hasilnya bahwa jalan Ki Hajar Dewantara, tepatnya yang di belakang kampus Kentingan UNS terlihat lebih tertib. Trotoar sudah berguna sebagaimana mestinya. Para pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor menjadi lebih nyaman ketika melewati jalan tersebut. Para pedagang seharusnya juga lebih nyaman dalam menjajakan dagangannya (terutama bagi yang ikut pindah ke dalam pasar Panggungrejo).

Kamis, 02 Desember 2010

Konser Amal untuk Korban Letusan Merapi

Kamis 11 November 2010, bertempat di gedung Student Center Universitas Sebelas Maret Surakarta, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam "Warga Grha UKM UNS" menggelar konser amal untuk korban letusan gunung Merapi. Aksi spontanitas yang digagas oleh 'tetua-tetua' Grha UKM UNS, ketua-ketua UKM tingkat universitas yang ada di Grha UKM UNS beserta lurah Grha UKM UNS tersebut tak disangka-sangka mendapat apresiasi yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Tepat pukul 20.00, konser diawali oleh penampilan dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNS "Voca Erudita". Setelah itu, dilanjutkan sambutan oleh lurah Grha UKM UNS, Ade Prihandana, serta Ka. Biro Kemahasiswaan UNS yang baru, bapak Hermawan yang sekaligus membuka acara tersebut. Lalu, secara berturut-turut penampilan dari UKM Institut Karate-Do Indonesia (INKAI), UKM Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT), UKM Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), UKM Taekwondo, UKM Marching Band, dan yang terakhir UKM Tesa (Kelompok Kerja Teater Fakultas Sastra dan seni Rupa). Meskipun persiapan selama tiga hari yang dirasa sangat mepet, namun semua penampilan dapat memukau lebih dari 500 penonton yang memadati Student Center UNS malam itu.

Akhirnya, dari acara ini terkumpul sumbangan uang sebesar Rp 3-4 jutaan (maaf, saya lupa jumlah pastinya) yang disumbangkan melalui PMI Kota Surakarta dan beberapa sumbangan berbentuk logistik yang dikirimkan secara langsung melalui lembaga lain (kalau tidak salah dikirim bersama sumbangan yang dikumpulkan Perkumpulan Masyarakar Surakarta).

Pada acara kali ini, panitia mengucapkan terima kasih kepada warga Grha UKM UNS yang telah berpartisipasi aktif dalam kelancaran acara ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga diberikan kepada Kelompok Kerja Teater Sastra (TESA) yang telah menyiapkan panggung dan penampilan yang luar biasa hebat pada acara ini. Semoga semua yang telah dilakukan bersama ini dapat benar-benar berguna dan dapat sedikit mengurangi penderitaan bagi korban letusan gunung Merapi.

Amin.

Sabtu, 28 Agustus 2010

UNS ialah Universitas Sebelas Maret!

Mahasiswi baru UNS 1: "Eh, UNS ki singkatan apa, ta? Universitas Negeri Surakarta apa Universitas Negeri Sebelas Maret apa Universitas Sebelas Maret?"

Mahasiswi baru UNS 2: "Wah, mbuh ki... aku ya bingung dhewe. Ra mudheng aku."

Percakapan di sebuah warung internet di belakang kampus Kentingan UNS tersebut semakin memantapkan saya untuk membuat posting tentang universitas negeri yang ada di kota Surakarta ini. Sebagai mahasiswa yang telah cukup lama menimba ilmu di UNS, saya sungguh malu sekaligus prihatin karena banyak mahasiswa UNS yang masih bingung dengan nama universitasnya sendiri.

Oh iya, inilah arti dalam bahasa Indonesia dari percakapan di atas.

Mahasiswi baru UNS 1: "Eh, UNS itu singkatan dari apa, sih? Universitas Negeri Surakarta atau Universitas Negeri Sebelas Maret atau Universitas Sebelas Maret?"

Mahasiswi baru UNS 2: "Wah, tidak tahu... aku juga bingung. Aku tidak tahu, lah!"

Inilah Mengapa Universitas Sebelas Maret disebut UNS
Memang tidak banyak mahasiswa UNS yang tahu sejarah almamaternya, meskipun sudah tahu bahwa UNS adalah singkatan untuk Universitas Sebelas Maret. Universitas ini berdiri melalui S.K. Presiden nomor 10 tahun 1976 dengan nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret dan disingkat menjadi UNS. Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1980-an, berganti nama menjadi Universitas Sebelas Maret (maaf, saya lupa berdasarkan S.K. Presiden nomor berapa). Dan, singkatan UNS tetap dipakai untuk merujuk kepada Universitas Sebelas Maret. Apabila ditemukan singkatan lain untuk merujuk Universitas Sebelas Maret, misalnya USM atau UNSM atau apa lah yang lain, itu tidak benar menurut S.K. tersebut.
Informasi ini saya dapatkan pada sambutan salah satu acara di UNS yang disampaikan salah satu pejabat UNS. Dengan ini, telah jelas bagi kita semua bahwa UNS adalah Universitas Sebelas Maret dan Universitas Sebelas Maret adalah UNS. Jangan membantah!

Selasa, 10 Agustus 2010

Pasoepati Inginkan Keadilan untuk Persis

"Pak Kapolda, Pak Kapolda...
TANGKAP WASITNYA!!
kok kayaknya...
terima suap!"
Nyanyian tersebut menggema di stadion Jatidiri, Semarang setelah pertandingan Persis Solo melawan Persiku Kudus dalam lanjutan play-off degradasi Divisi Utama Liga Indonesia, Minggu 8 Agustus 2010. Pertandingan tersebut sebenarnya berakhir imbang 1-1, namun hasil ini tidak cukup membuat Persis Solo bertahan di divisi utama musim depan yang membutuhkan kemenangan. Persiku Kudus, berhasil bertahan di divisi utama liga Indonesia musim mendatang meskipun banyak yang menyangsikan pertandingan tersebut berjalan dengan fairplay.
Pasoepati, pendukung setia Persis Solo secara terang-terangan menyatakan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh wasit dalam pertandingan tersebut sering merugikan Persis Solo. Pernyataan tersebut mereka ungkapkan melalui nyanyian yang dikumandangkan sesaat setelah pertandingan berakhir. Kapolda Jateng yang pada saat itu ikut memantau situasi keamanan pertandingan, diajak oleh Gondrong, dirigen Pasoepati, ke tribun selatan stadion Jatidiri di mana Pasoepati memberikan semangat kepada Laskar Sambernyawa. Saat itulah, Pasoepati mengungkapkan keluh-kesahnya melalui nyanyian.
Terlepas aksi simpatik ribuan Pasoepati yang hadir ke stadion Jatidiri Semarang tersebut, di harian umum Solopos sehari setelah pertandingan tersebut dilaporkan bahwa para pemain Persis Solo mengaku telah diiming-imingi sejumlah uang agar mengalah saja pada pertandingan itu, namun mereka menolaknya. Para pemain Persis Solo sudah benar-benar setia kepada Persis Solo dan tidak sudi untuk menerima tawaran tak terpuji itu. Pihak-pihak yang menghubungi para pemain Persis Solo ialah Pengda PSSI Jateng dan manajer tim Persiku Kudus. Namun setelah dikonfirmasi,mereka membantah hal tersebut.
Bagaimana kelanjutan kasus ini? Kita tunggu saja reaksi PSSI.
Untuk mengetahui perkembangan Persis Solo, silakan klik Pasopati [dot] net.

Kamis, 22 Juli 2010

Dukungan Untuk Persis Solo

Warga kota Solo atau Pasoepati pada khususnya, akhirnya bisa sedikit lega setelah mengetahui Persis Solo akan melakukan play-off Divisi Utama Liga Indonesia. Sebelumnya, nasib Persis Solo tidak jelas setelah menyelesaiakan kompetisi musim lalu di posisi paling bawah. Ketidakjelasan ini bisa dikatakan diakibatkan oleh aturan liga Indonesia yang tidak dilaksanakan dengan baik oleh PSSI. Posisi paling bawah pada Divisi Utama Liga Indonesia masing-masing wilayah yang awalnya akan terkena degradasi, akhirnya direvisi dengan dilakukannya play-off bagi klub-klub penghuni terbawah klasemen. Masing-masing klub tersebuat ialah Persires Rengat, Persis Solo dan Persiku Kudus. Play-off sendiri direncanakan dilangsungkan sekitar tanggal 3, 5, atau 7 Agustus mendatang di stadion Jatidiri, Semarang. Memang hingga saat ini belum ada pengumuman secara resmi dari PSSI, namun seperti dikutip dari Pasoepati.net, pihak manajemen Persis Solo telah dihubungi oleh PSSI melalui Badan Liga Indonesia secara lisan, bahwasanya akan ada play-off bagi klub-klub yang telah disebutkan di atas. Pengumuman secara tertulis akan diumumkan kemudian.
Menanggapi pengumuman dari BLI tersebut, manajemen Persis Solo langsung menanggapi dengan baik. Beberapa pemain telah diundang manajemen untuk membahas pembentukan tim dalam menghadapi play-off. Pada pertemuan yang dilaksanakan pada 20 Juli kemarin, sebanyak 15 pemain menyatakan kesanggupannya berlaga di babak play-off.
Kesanggupan pemain-pemain Persis Solo untuk berlaga di pertandingan penentuan masuk atau tidaknya Persis Solo di Divisi Utama Liga Indonesia musim depan sangat diapresiasi oleh Pasoepati. Apresiasi tersebut ditunjukkan dengan dukungan moral maupun materi. Secara moral, Pasoepati berencana menyemangati para pemain dengan hadir di stadion Jatidiri, Semarang. Secara materi, bentuk dukungan dilakukan dengan penggalangan dana yang nantinya akan diberikan para pemain Persis Solo.
Penggalangan dana tersebut merupakan inisiatif redaksi Pasoepati.net. Apabila Anda ingin memberikan dukungan kepada Persis Solo, hubungi Atha (085647216724) atau Babhe Solomania (08562506250). Dukungan berupa donasi juga bisa secara langsung dikirimkan melalui:

BNI SLAMET RIYADI SOLO
No.Rekening 0188076236
Atas nama Artha Dewi Wulansih

Semangat, Persis Solo!

Rabu, 14 April 2010

Tubing di Kali Anyar, Solo

Tubing. Awalnya, saya tidak tahu maksud tubing. Teman-teman di Grha UKM UNS yang mengajak saya tubing, hanya menjelaskan, "Asyik dah, pokoknya... kaya rafting, tapi pake ban truk.. ayo ikut aja!" Oke, akhirnya saya ikut tubing di sungai Kali Anyar, Solo.
Minggu pagi, 28 Maret 2010 kami berkumpul di Grha UKM UNS, tempat aktivitas mahasiswa di UNS Solo. Tidak seperti tubing satu minggu sebelumnya yang diikuti 7 orang, kali ini hanya 4 orang. Saya, Widita 'Gemblink', Widiatmoko 'Bang Satir', dan 'Thengek'. Mas Dede yang tadinya mau ikut, akhirnya kita tinggal karena kelamaan pulang dari Jogja. Sori ya mas... hehe... Tanya Gemblink tuh, kapan lagi mau tubing. Sedangkan teman-teman yang lain sudah punya kegiatan masing-masing.
Persiapan dilakukan dengan memompa ban truk dan mengecek ban tersebut bocor atau tidak. Benar saja, satu dari tiga ban yang kami siapkan untuk tubing, bocor. Karena sudah mulai siang, ban yang bocor ditambal seadanya, hanya ditutup menggunakan 'sesobek' ban karet yang direkatkan dengan lem. Setelah dirasa sudah menempel kuat, kami berangkat ke Taman Sekartaji, sebuah taman yang belum lama ini dibangun pemkot Solo di tepi sungai Kali Anyar. Dari situlah kami memulai 'petualangan'.
Sesampainya di sana, kami menyatukan ban
menggunakan tali. Kami memang sengaja menyatukan ban tersebut supaya lebih leluasa kami gunakan berempat. Pelampung pinjaman dari KSR-PMI UNS kami kenakan, kemudian turun ke bibir sungai. Berjalan sedikit ke arah barat, kami benar-benar masuk air dari sebelah barat jembatan Kandangsapi, yang terdapat jeram setelahnya.
Kami semua telah di atas tube. Berdoa, dan... mendayung tube searah arus sungai ke arah timur, menuju sungai terpanjang di pulau Jawa, Bengawan Solo! Dengan komando entah dari siapa, kami mendayung dengan kencang sebelum melewati jeram pertama. Semakin mendekati jeram kami makin semangat mendayung, dan akhirnya 'wusss..!' tube terbalik, kami semua jatuh ke dalam air! Setelah berhasil mengendalikan diri, wa
h..ternyata air tidak terlalu dalam, hanya sekitar pinggang. Kami semua tertawa, begitu juga anak-anak di sekitar taman yang sejak pertama kami tiba, bertanya-tanya penasaran apa yang akan kami lakukan pun ikut tertawa kegirangan melihat apa yang kami alami. Sedangkan sebagian pria dewasa dan bapak-bapak yang sedang memancing hanya tersenyum sinis dan (mungkin) berkata dalam hati, "dasar cah-cah kurang gawean!" Ah, biarkan saja... haha..
Akhirnya kami berhasil meraih tube yang mulai hanyut terbawa arus sungai. Setelah memeriksa ikatan ban dan juga beberapa bekal dan kami pikir baik-baik saja, kami melanjutkan perjalanan. Arus sungai tergolong amat tenang dengan sangat se
dikit jeram. Kami sangat menikmati suasana tenang di sungai yang sudah tercemar limbah industri dan juga rumah tangga ini....>.<
Arus sungai tergolong tenang dengan sedikit jeram. Hanya jeram pertama saja yang menantang dan membuat tube kami terbalik dan menenggelamkan kami. Namun, ada lagi satu jeram yang cukup menantang karena di situ, tube kami tersangkut. Agar kami bisa melanjutkan perjalanan, 'Gemblink' berinisiatif untuk turun dari
tube, dan tubepun terbebas dari batu yang mengakibatkan jeram itu. Akan tetapi, Gemblink masih belum bisa kembali menaiki tube, sedangkan tube mulai membawa kami mengikuti aliran sungai. "Ayo mblink, berenang aja..tenang...", kami berteriak ke arah Gemblink yang mulai panik... Benar saja, dia mulai berenang mengejar tube. Singkat cerita, Gemblink akhirnya bisa naik lagi ke atas tube. "Wah, sakit nih kaki gue," dia berkata sambil meringis. Ternyata, kakinya tergores batu-batu yang ada di dalam air. "Udah, ga papa. Cuma gitu doang," Bang Satir menanggapi. Sedangkan saya dan Thengek hanya tertawa... Haha... Tengkyu lah Mblink!
Perjalanan berlanjut, kali ini kami melewati perkampungan di tepi sungai. Di sana ada anak-anak yang sedang asyik entah bermain apa
. Menyadari kedatangan kami, mereka tiba-tiba berteriak, "Mas, melu mas..." Tanpa menunggu jawaban, mereka langsung melepas baju dan melompat dari ketinggian tebing sungai kira-kira 3 meter. 'Byur..' 'Byur..' 'Byur..' Tiga anak menceburkan dirinya ke dalam sungai. "Wah, berani juga nih anak," pikirku. Kemudian mereka berenang mendahului kami dan menunjukkan kebolehan berenangnya di sisi kanan-kiri tube. Kami kemudian bercakap-cakap dengan mereka, ternyata mereka memang sudah terbiasa berenang di situ. Tidak lama kemudian, satu anak akhirnya memutuskan kembali naik ke daratan setelah dua anak lainnya ingin ikut kita lebih jauh lagi. Dia malu karena untuk kembali mereka hanya mengenakan celana saja dan harus lewat darat karena tidak mungkin untuk kembali berenang menentang arus sungai. Sesampai di jembatan baru yang menghubungkan daerah Ngoresan dengan ring road utara kota Solo, anak-anak tersebut akhirnya pamit pulang.
Suasana tenang dan damai kembali menggelayuti kami. Hingga akhirnya kami melihat layang-layang putus dan jatuh ke sungai. Ternyata, banyak anak-an
ak mengejar layang-layang tersebut. Mereka terlihat sangat kecewa setelah tahu layang-layang yang mereka kejar tak mungkin lagi mereka raih. Akhirnya kami menawarkan kepada mereka untuk mengambil layang-layang yang sudah basah tekena air. Tentu saja mereka sangat senang setelah kita berhasil meraih dan memberikannya kepada mereka. Kami melanjutkan perjalanan dengan diiringi tawa dan ucapan terima kasih anak-anak.
Tidak lama setelah itu, kami memutuskan untuk menepi dan beristirahat sebentar. Bekal snack khas daerah Kebumen 'lanthing', kami makan bersama-sama. Gurih, renyah, pedas, ah... enaknya... Di sela-sela istirahat, saya membuka barang bawaan pribadiku, HP dan dompet yang telah saya bungkus plastik
rangkap tiga supaya aman. Namun, ternyata oh ternyata, plastiknya sudah berlubang dan sobek, mungkin terkena batu saat melewati jeram. Apes, HP benar-benar basah, 'terendam' di sungai selama lebih dari satu jam! Hhh...
'Lanthing' rasa pedas telah habis kami makan, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami mulai menerka di daerah mana kami telah sampai. Kami juga mulai berdebat di mana kami akan mengakhiri perjalanan ini. Rencana semula, tubing akan kami akhiri di daerah Sragen. Masih sangat jauh dari Solo. Entah berapa puluh kilometer lagi. Membayangkan Sragen yang masih begitu jauh, padahal selama tubing yang sudah lebih dari satu jam masih di dalam kota Solo, kami pun melihat pertemuan Kalianyar dengan Bengawan Solo. Deras arus sungai Bengawan Solo yang yang menyambut arus sungai Kalianyar membuat hati kami gentar. Kami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila kami melaluinya. Akhirnya kami menepi dan memutuskan menyudahi tubing.
Kami menuju sumur warga se
tempat untuk membersihkan diri. Teka-teki tentang di mana kami berada terungkap sudah. Kami berada di kampung Kaplingan. Tidak terlalu jauh dari kampus UNS Kentingan. Syukurlah... Sudah cukup bersih dan masih basah, kami berjalan menyusuri kampung menuju tempat angkot. Angkot yang masih kosong akhirnya membawa kami ke kampus UNS Kentingan, kampus yang terdapat Grha UKM UNS tercinta di dalamnya....

Kiri ke kanan: Bang Satir, Thengek, Gemblink, Saya


Sabtu, 20 Februari 2010

"Boyong Kedhaton", Puncak Perayaan Ulang Tahun Kota Solo

Tanggal 17 Februari 2010, kota Solo (Surakarta) mencapai umurnya yang ke-265 tahun. Pemkot Solo memeriahkannya dengan berbagai acara untuk memperingatinya. Perayaan yang bertema “Solo Kreatif, Berbudaya, dan Sejahtera” ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, antara lain: penanaman pohon, ziarah ke makam leluhur pendiri Solo, lomba pidato bahasa Jawa, lomba macapat, pengobatan gratis, pameran kaligrafi, dan lain-lain.
Puncak acara peringatan ulang tahun kota Solo ini ialah kirab budaya yang bertajuk "Boyong Kedhaton". Kirab atau tahun ini yang juga diberi nama Solo Carnival 2010 dimulai pukul 15.00 WIB. Kirab diberangkatkan dari lapangan Kottabarat menuju Balai Kota Solo melalui jalan Slamet Riyadi. Kirab yang merepresentasikan kota Solo masa lalu hingga Solo masa kini ini melibatkan sekitar 3000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, sanggar-sanggar kesenian, pegawai pemkot, hingga masyarakat umum.
Berikut merupakan hasil jepretan teman saya yang hobi fotografi, Adityo Faturrochman.





Senin, 15 Februari 2010

Pasoepati Kecewa

Pasoepati yang baru merayakan ulang tahun ke-10, mendapatkan kado pahit setelah Persis Solo dikalahkan PSIS Semarang. Tim kebanggaan mereka takluk 0 - 3 di kandang sendiri. Pasoepati yang memadati stadion Manahan pada Minggu, 14 Februari 2010 kemarin benar-benar terpukul dan sangat kecewa dengan hasil memalukan tersebut. Kekecawaan tersebut sebagian diungkapkan dengan meninggalkan stadion sebelum pertandingan berakhir, tentu saja tanpa tindakan anarkis. Memang ada beberapa orang yang melempar botol minuman ke dalam lapangan, tetapi masih wajar dan tidak menimbulkan kericuhan. Mereka hanya "membuang" botol minuman tersebut ke dalam lapangan sebagai tanda kekecewaan mereka. Selain itu, mereka juga menyanyikan lagu kekecewaan:
"Di sini kalah, di sana kalah, di mana-mana Persis-ku kalah....hee..yo..."
(Lagu di atas merupakan plesetan lagu anak-anak "di sini senang di sana senang"(??))

Mereka juga menyayikan lagu dari (alm.) Mbah Surip ...
"Bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi. Bangunn ... ng**** **i!!!"
(Sengaja saya sensor karena kata-kata tersebut kurang pantas. Pasoepati menyindir pemain Persis, sebenarnya mereka serius berlatih dan bermain apa tidak.)

Terakhir, mereka jelas-jelas menyampaikan kekecewaannya dengan menyanyikan lagu di bawah ini secara berulang-ulang.
"Pasoepati kecewa ... pasoepati kecewa ..."

Sebenarnya, Persis bermain cukup bagus meskipun bermain tanpa "sang jenderal" lapangan tengah, Nova Zaenal karena mendapatkan larangan bertanding akibat akumulasi kartu kuning. Lini tengah Persis yang didominasi pemain muda bisa mengimbangi lini tengah PSIS yang lebih berpengalaman, sebut saja Imral Usman, Yaris Riyadi dan Gustavo Chena. Persis juga cukup sering mengancam gawang lawan melalui Ferry Anto, Erick Maulana dan Budi Arianto, namun peluang yang ada tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Bahkan Alberto Paredes sering kehilangan bola.
Kesedihan Pasoepati bermula pada sekitar menit ke-5 babak kedua ketika Imral Usman mengirimkan tendangan sudut ke arah Gustavo Chena. Bola yang melambung sedikit di permukaan tanah langsung dilesakkan dengan sangat kencang oleh pemain asal Argentina itu. Gol. Pasoepati yang sedang bersorak-sorai mendukung Laskar Samber Nyawa, terbungkam. Hujan yang turun sesaat setelah gol tersebut seakan menjadi penghantar kesedihan Pasoepati. Gol demi gol PSIS masuk ke gawang Johan Setiawan menambah kepedihan yang amat dalam karena Persis belum pernah menang di putaran kedua Divisi Utama Liga Indonesia. Adalah Imral Usman yang membobol gawang Persis pada menit ke-59 dan menit ke-68 benar-benar membenamkan Persis ke jurang degradasi.
Pasoepati pantas kecewa mengingat perjuangan mereka mendukung Persis selama ini. Akan tetapi, entah kepada (si)apa kekecewaan tersebut diungkapkan. Pengurus, manajemen, pelatih, atau pemain Persis? Yang jelas, Pasoepati tetap Pasukan Supporter Solo Paling Sejati, tanpa Anarki.

Sabtu, 13 Februari 2010

Sepur Kluthuk Jaladara

Sepur Kluthuk Jaladara, merupakan kereta uap wisata yang berjalan di tengah kota Solo. Rangkaian kereta ini ditarik oleh lokomotif uap buatan Maschinenbau Chemnitz (Richard Hartmann), Jerman tahun 1896 yang didatangkan dari Museum Palagan Ambarawa. Lokomotif tersebut menarik dua gerbong, yaitu tipe CR 16 dan CC 44 yang didatangkan dari Magelang dan Bandung serta mampu menampung sekitar 72 penumpang.
Kereta wisata yang kini menjadi andalan baru bagi pemkot Solo ini diresmikan oleh menteri Perhubungan (saat itu) Jusman Safeii Djamal pada hari Minggu, 27 September 2009. Setelah peresmiannya, kereta ini tidak dioperasikan setiap hari melainkan hanya pada akhir pekan dan hari libur nasional yang saja. Meskipun begitu bila ada rombongan yang ingin menyewa kereta tersebut pada hari-hari biasa (Senin-Jumat), tidak menutup kemungkinan kereta akan dijalankan sesuai permintaan penyewa kereta.
Kereta ini melakukan perjalanan reguler pada hari Sabtu mulai pukul 16.30 dan hari Minggu pukul 09.30, yang kesemuanya berangkat dari stasiun Purwosari, menuju ke stasiun Solo Kota (Sangkrah) dan kembali lagi ke stasiun Purwosari melalui jalur yang sama. Di antara stasiun tersebut, kereta melewati pemukiman penduduk dan "membelah" kota Solo dengan menyusuri jalan Slamet Riyadi dan beriringan dengan kendaraan lainnya di atas rel yang pertama kali dibuat oleh NIS (Nederlandsch Indiƫ Spoor Maatschappig) pada tahun 1920. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 3 jam dan menempuh jarak sekitar 11,2 km.
Pemandangan yang "tidak biasa" ditawarkan kepada para penumpang Sepur Kluthuk Jaladara ini. Kenapa? Karena penumpang akan melihat sederetan pemukiman penduduk, hotel, pertokoan, pasar swalayan, mall dan hiruk-pikuk warga perkotaan. Sangat berbeda dengan wisata kereta uap lainnya yang melewati area persawahan, gunung, bahkan hutan. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri bagi Sepur Kluthuk Jaladara yang merupakan satu-satunya kereta uap kuno yang berjalan di tengah keramaian kota.
Selain disuguhi pemandangan dan sensasi berkendara "roda besi tua" ini, wisatawan juga mendapatkan:
- Welcome drink jamu gendhong tradisional (di atas kereta wisata
- Jajanan khas ala Solo, antara lain Sate Kluthuk (sate kere ala sepur kluthuk Jaladara)dan jajan pasar
- Musik tradisional (sindhen, siter, dan kendhang)
- Pemandu wisata yang akan menerangkan sejarah dan potensi Kota Solo (Surakarta)
- Tunas pohon Jati (untuk penghijauan kembali Indonesia)
- Atraksi wisata budaya (gendhing Jawa, hadrah, dll.) di beberapa titik pemberhentian.

Adapun titik pemberhentian kereta ini ialah:
- Diamond Convention Center
- Solo Grand Mall
- Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Surakarta)
- Museum Batik Danar adi
- Museum Radya Pustaka Sriwedari
- Perempatan Pasar Pon (Pasar Windujenar – Ngarsopura)
- Kampung Seniman Kemlayan
- Kampung Batik Kauman
- Beteng Trade Center / Gladag Langen Bogan
- Stasiun Solo Kota.
Akan tetapi, kegiatan, titik pemberhentian, dan lama berhenti tidak mengikat. Bisa berubah, berkurang, dan/atau bertambah sesuai dengan kondisi perjalanan dan paket wisata yang diambil.
Tarif yang dikenakan kepada para wisatawan cukup mahal, yaitu Rp 200.000,00 tiap orang dari luar kota Solo (Surakarta). Sangat jauh berbeda dengan warga kota Solo (Surakarta) yang hanya dikenai tarif Rp 30.000,00. Setelah mendapt banyak masukan, akhirnya tarif diubah menjadi Rp 50.000,00 bagi warga (pemilik KTP) Soloraya yang meliputi kota Surakarta (Solo), Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten. Sedangkan bagi wisatawan di luar itu, tetap Rp 200.000,00. Harga ini masih bisa berubah, tergantung kebijakan dari pengelola.